Warga Terdampak NYIA Gelar Syukuran Boyongan ke Lahan Relokasi
Budaya

Warga Terdampak NYIA Gelar Syukuran Boyongan ke Lahan Relokasi

Temon,(kulonprogo.sorot.co)--Sebagai tanda dimulainya proses pindahan ke lahan relokasi, warga terdampak bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) dari lima desa menggelar syukuran  dan doa bersama, Selasa (19/09/2017) di lahan relokasi Glagah.

Dalam kesempatan tersebut, hadir pula sejumlah pejabat Forkompinda Kulon Progo termasuk Bupati Kulon Progo, Hasto Wardoyo beserta jajarannya. Sebagai simbol dimulainya proses relokasi warga tampak membawa tumpeng, ingkung serta hasil bumi lainnya.

Perlengkapam tidur seperti bantal, tikar dan guling serta sapu lidi juga turut dibawa oleh warga. Hal tersebagai simbol bahwa warga telah memindahkan barangnya ke tempat yang baru dan siap memulai hidup baru di tempat yang baru pula.

Acara tersebut kemudian diakhiri dengan doa bersama dilanjutkan pemotongan tumpeng dan santap siang bersama dengan tumpeng yang dibawa oleh masing-masing perwakilan warga dari lima desa tedampak bandara.

Bupati Kulon Progo, Hasto Wardoyo berharap bahwa melalui acar tersebut warga diharapkan siap dan segera pindah dari lahan yang telah diakuisisi oleh PT Angkasa Pura I sebagai pemrakarsa pembangunan bandara NYIA.

Hasto juga menyebut bahwa pihak Pemkab Kulon Progo akan mengambil tanggung jawab dalam mengawal proses relokasi. Terkait dengan batas waktu yang diberikan PT Angkasa Pura I pada 22 September 2017 mendatang, Hasto menyebut bahwa pihaknya akan segera menemui PT Angkasa Pura I untuk berkoordinasi.

"Karena warga sebenarnya ingin pindah setelah bulan Suro jadi kami akan berkoordinasi dengan Angkasa Pura. Apalagi sebagian rumah belum siap huni. Dari 279 rumah, baru ada sekitar 107 rumah yang siap dengan kriteria memiliki pintu, jendela, listrik dan air," ungkap Hasto.

Sementara itu, salah seorang warga terdampak asal Pedukuhan Bapangan, Glagah, Kecamatan Temon, Sudiro (60) mengaku bahwa dirinya telah menempati rumah relokasi sejak lima hari lalu. Ia tinggal memindahkan beberapa perabotan seperti kursi dan meja tamu, lemari pendingim serta mesin cuci. 

"Di sini sudah ada beberapa warga yang menempati rumah relokasi. Yang saya bawa ke rumah relokasi saat ini baru TV dan tempat tidur," ungkap Sudiro.

Warga lain asal Desa Jangkaran, Kecamatan Temon, Sukarjo mengaku bahwa sebagian warga lain akan mulai pindah pada tanggal 1 bulan Sapar penanggalan Jawa atau sekitar bulan Oktober. Menurutnya, bulan Suro merupakan bulan yang harus dihidari oleh warga.

"Kalau saya sudah mulai nyicil memindahkan barang-barang. Mungkin dua hari sudah selesai dam akam segera ditempati," ungkap Sukarjo.