Bermasalah, Surat Perjanjian Sewa dan Bangunan Tanah Kas Desa Dipertanyakan
Peristiwa

Bermasalah, Surat Perjanjian Sewa dan Bangunan Tanah Kas Desa Dipertanyakan

Pengasih,(kulonprogo.sorot.co)--Adanya bangunan yang terletak di Pedukuhan Gunung Gondang, Desa Margosari, Kecamatan Pengasih, di atas tanah milik warga dan tanah kas desa setempat dipertanyakan oleh Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Margosari. Hal itu karena lembaga mitra pemerintah desa tersebut sama sekali tidak mengetahui pemilik maupun peruntukan bangunan yang kini tengah dalam proses pengerjaan.

Selain tidak diajak bermusyawarah oleh pemerintah desa, sejumlah anggota BPD juga mempertanyakan izin dari bangunan tersebut serta surat perjanjian sewa-menyewa antara warga pemilik lahan dan pemerintah desa setempat dengan perwakilan perusahaan. Dimana surat perjanjian sewa yang ada pada warga pemilik lahan juga dianggap merugikan masyarakat.

Saya ini mendengar hanya sebatas yang berkembang di masyarakat, untuk kejelasan dan peruntukan bangunan itu sama sekali belum pernah diajak musyawarah oleh desa, hanya tiba-tiba ada pembangunan, di lahan warga dan lahan kas desa,” ungkap Mursanto, Wakil Ketua BPD Margosari, Mursanto, Jumat (15/09/2017).

Sedangkan bangunan yang kini dalam tahap pengerjaan ini diperkirakan berada di lahan seluas hampir 1 hektare dengan status milik 2 orang warga setempat dan sebagian berstatus tanah kas desa Margosari. 

Kalau menggunakan tanah kas desa kan semestinya kita juga diajak musyawarah, terus nantinya digunakan untuk apa, kalau untuk industri ijinnya bagaimana, sudah sosialisasi ke masyarakat atau belum. Dan juga jangan lupa dampak lingkungan yang ditimbulkan bagaimana. Hal-hal seperti ini kan perlu dijelaskan, karena di wilayah sini merupakan lingkungan pendidikan. Nah yang terjadi sekarang tiba-tiba ada pembangunan, pas saya melihat surat perjanjian yang ada d warga, saya rasa juga merugikan pemilik lahan, surat perjanjian sewa penggunaan tanah kas desa pun saya juga sama sekali belum pernah melihat. Sehingga nanti kita perlu meminta klarifikasi ke pemerintah desa agar semuanya bisa jelas dan transparan,” papar Mursanto.

Sementara dari informasi yang berhasil dihimpun di lapangan, bangunan yang berdinding batako dan masih dalam tahap pengerjaan ini diperkirakan akan dijadikan pabrik pemecah batu (stone crusher) dimana salah satu pemilik sahamnya merupakan orang terpandang di Kabupaten Kulon Progo.