Pernikahan Unik, Seluruh Prosesi Disampaikan dengan Macapat
Budaya

Pernikahan Unik, Seluruh Prosesi Disampaikan dengan Macapat

Lendah,(kulonprogo.sorot.co)--Hampir sebagian besar pasangan pasti menginginkan pernikaham yang bisa dikenang selalu atau dengan kata lain memiliki pernikahan idaman. Namun perayaan pernikahan idaman tak harus melulu berpesta dengan serba wah, namun juga bisa dengan cara lain.Seperti pernikahan Wulan Styaningsih dengan kekasihnya Ryan Widiatmoko yang memilih membuat pernikahan unik.

Pada pernikahan dengan adat Jawa yang kerap dijumpai, kedua mempelai dan keluarga hanya sebatas mengenakan busana asat Jawa sedangkan prosesi lainnya tetap berjalan biasa. Namun pada pernikahan warga Desa Sidorejo, Lendah yang digelar Minggu (16/04/2017) siang, seluruh prosesi pernikahan mulai dari pembawa acara, sambutan keluarga dan prosesi lainnya disampaikan menggunakan macapat. Tentun saja hal ini merupakan hal yang jarang ditemui.

"Kami mengangkat kebudayaan Jawa yakni macapat. Pernikahan idaman kita seperti ini sudah membanggakan," ujar sang mempeleai pria, Rian Widiatmoko, Minggu siang.

Selain seluruh prosesi pernikahan yang disampaikan dengan tembang macapat, pasukan ala Mataraman atau yang biasa disebut dengan bregada turut dalam kemeriahan pernikahan Rian dan Wulan. 

Dijelaskan oleh Rian, memang tak mudah untuk menyiapkan kedua pihak keluarga agar bisa sepaham dengan konsep pernikahan unik tersebut, terlebih dengan persiapan yang tak begitu cukup. Sempat ada pikiran bahwa resepsi ini tak akan berjalan lancar.

"Tapi alhamdullillah saya bangga, seluruh pihak yang turut nembang macapat lancar semua," sambung Rian.

Ayah mempelai putri, Widarta mengungkapkan bahwa awal mula dipilihnya konsep pernikahan tersebut memang berlatar belakang dari campur tangan dirinya dan juga Miskinim yang merupakan ibu mempelelai putri dalam paguyuban macapat di masyarakat.

"Saya dan istri memang dari dulu sangat suka dengan yang namanya macapat, jadi konsep pernikahan ini secara tidak langsung juga memberikan edukasi kepada para tamu bahwa macapat itu bisa dinikmati dan diterapkan di pernikahan seperti ini. Harapannya bisa jadi contoh," terang Widarto.

Sementara itu, Kabid Sejarah, Bahasa dan Sastra Dinas Kebudayaan Kulon Progo, Wruhantoro yang juga hadir dalam resepsi tersebut mengapresiasi dengan konsep pernikahan yang dipilih.

"Sebelumnya konsep pernikahan seperti ini belum ada," katanya.