Lestarikan Tradisi, Warga Kampung Gemplong Olah Kopi Secara Tradisional
Ekonomi

Lestarikan Tradisi, Warga Kampung Gemplong Olah Kopi Secara Tradisional

Karanggayam,(kebumen.sorot.co)--Komoditas kopi kini menjadi salah satu potensi usaha yang berkembang di Desa Giritirto Kecamatan Karanggayam. Bahkan, warga Dukuh Kedunglo desa setempat menjadikan wilayahya sebagai wisata Kampung Gemplong. Disebut demikian, karena sebagian besar warganya melakukan aktivitas ‘Nggemplong’ atau menumbuk.

Di tengah banyaknya varian cara pengolahan kopi, namun warga Desa Giritirto tetap mempertahankan cara tradisionalnya. Seluruh proses pengolahan kopi di Kampung Gemplong masih dilakukan secara manual. Mulai dari memilah biji kopi, menampi, menyangan (menyangrai), menumbuk dengan digemplong, hingga mengayak serbuk kopi dilakukan oleh ibu-ibu.

Mempertahankan pengolahan cara tradisional oleh masyarakat bukan tanpa sebab. Masyarakat meyakini, cara tersebut mampu menciptakan aroma dan rasa khas yang berbeda dengan kopi dari daerah lain. Terlebih, tidak ada campuran bahan apapun untuk kopi yang lebih dikenal dengan kopi Gemplong Subileng ini.

Nur Hasanah, salah satu warga mengungkapkan, pembuatan kopi Gemplong dimaksudkan untuk nguri-uri tradisi masyarakat Desa Giritirto yang mengolah biji kopi dengan cara tradisional yakni ditumbuk. Ia yang sudah bertahun-tahun melakoni praktik Nggemplong itu, mengaku keahlian didapat dari orang tuanya.

Menurutnya, untuk membuat biji kopi menjadi kopi Gemplong membutuhkan waktu satu hari. Dalam satu harinya, dirinya bersama kelompok mampu menghasilkan 20 kilogram olahan kopi Gemplong. Nggemplong baginya merupakan sebagai pekerjaan yang dilakoni hampir setiap hari.

"Satu hari rata-rata mendapatkan upah Rp 40 ribu," katanya, Selasa (5/3/2019).

Sementara itu, Kepala Desa Giritirto Teguh Prasetio mengungkapkan, biji kopi Gemplong berasal dari wilayah setempat dengan luas lahan 40 hektar. Dengan lahan seluas itu, dalam satu bulan mampu menghasilkan 1,5 kwintal biji kopi. Jumlah ini lebih banyak dibandingkan sebelumnya yang hanya 50 kilogram. 

"Harapannya ke depan wisata ini mampu meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat Giritirto," ucapnya.