Layanan Pasien Bersalin Dikeluhkan, RSUD dr. Soedirman Sudah Lakukan Penanganan Sesuai Prosedur
Peristiwa

Layanan Pasien Bersalin Dikeluhkan, RSUD dr. Soedirman Sudah Lakukan Penanganan Sesuai Prosedur

Kebumen,(kebumen.sorot.co)--Pihak RSUD dr. Soedirman Kebumen meluruskan sejumlah keterangan yang dinilai kurang akurat terkait penanganan salah satu pasien ibu hamil, pada Sabtu (2/2) pekan lalu. Sebelumnya, pihak keluarga pasien Rey Herawati (30) warga Desa Kedungwaru, Kecamatan Karangsambung, mengeluhkan pelayanan persalinan di RSUD yang terkesan lambat hingga bayi dalam kandungan pasien meninggal sebelum dilahirkan.

Kepeda sorot.co, Kepala Seksi Keperawatan, Sapto, memaparkan berdasarkan keterangan dari dokter penanggungjawab yang menangani Rey Herawati, yakni dr. Nurdianasari Dewi, pasien tersebut datang ke klinik kandungan RSUD dr. Soedirman Sabtu (02/02) pada pukul 08.11 WIB. Selanjutnya, pukul 08.28 WIB, pada anamnesa didapati pasien membawa surat rujukan dari praktek dr. Diana untuk dilakukan SC atau pengkajian lebih lanjut atas indikasi G1P0AO hamil aterm presbo atau presentasi bokong bayi berada di bawah. Pasien mengaku tidak datang ke rumah sakit dengan alasan karena menunggu BPJS aktif.

"Pasien dilakukan pemeriksaan awal diklinik kandungan dengan pemeriksaan doppler dan DJJ (Denyut Jantung Janin) tidak ditemukan. Berdasarkan keterangan tersebut berarti saat berada di sini bayi dalam kandungan itu sudah dalam kondisi meninggal dunia," terang Sapto.

Pada pukul 10.45 WIB, pasien dilakukan pemeriksaan oleh dr. Nurdianasari Dewi dengan USG terdiagnosa indikasi G1P0AO hamil aterm presbo Intra Uterine Fetal Deadth (IUFD). Yakni keadaan tidak adanya tanda-tanda kehidupan janin dalam kandungan atau kematian hasil konsepsi sebelum dikeluarkan dengan sempurna dari rahim ibunya. 

"Pasien kemudian diberikan surat perintah mondok ke ruang bersalin dan menjalani proses pendaftaran rawat inap," ucapnya.

Selanjutnya, pada pukul 12.30 WIB, pasien tiba di ruang bersalin dengan keluhan tidak merasakan gerakan janin sejak pukul 05.00 kenceng-kenceng tidak dirasakan dilanjutkan pemeriksaan fisik dan penunjang lainnya. Di ruang bersalin dilakukan pemeriksaan USG untuk mengetahui taksiran berat janin dan jumlah air ketuban.

Setelah itu menunggu pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan lainnya, melaporkan hasil pemeriksaan penunjang serta melakukan edukasi dan inform consent tindakan. Setelah menginjak pukul 17.30 WIB melalui dilakukan induksi atau pacu dengan misoprostol 25 microgram/vaginam/enam jam tablet pertama masuk.

Pada Minggu (03/02) pukul 16.00 WIB, masuk dalam persalinan fase laten konsul dr. Diana adv lanjut induksi oxitosin. Edukasi kepada pasien, pasien setuju dan dilakukan induksi dengan oksitoksin10 iu. Pada pukul 24.00 WIB induksi oksitosin 1 habis. Edukasi eksitosin ke-2 hendak dilakukan namun pasien menolak dan menandatangani penolakan.

"Pada hari Senin (04/02) pukul 07.30 pagi, dilakukan visite dokter dan diberikan inform chice, pasien memilih untuk dilakukan SC atau pengkajian lebih lanjut. Pada pukul 09.00 WIB, konsultasi staff inform consent tindakan dilakukan," katanya.

Setelah pukul 09. 35 WIB, persiapan SC sedang berlangsung, pemeriksaan dilakukan, dari pemeriksaan inspeksi tampak kaki bayi keluar dari jalan lahir, kemudian segera dilakukan edukasi. Bayi lahir spontan presentasi kaki berjenis kelamin perempuan dengan berat badan 2670 gram dengan panjang badan 48 sentimeter. Kondisi bayi macerasi grade 2, baunya sudah mulai membusuk dan kulit pada bagian belakang pinggang bayi juga sudah mengelupas. Hal itu menandakan bahwa bayi tersebut sudah meninggal dunia cukup lama.

"Intinya pelayanan yang dilakukan oleh dr. Soedirman itu sudah menggunakan panduan praktek klinik, regulasi atau pedoman standar pelayanan yang memang harus dilakukan. Sebagai rumah sakit rujukan, kami juga mempunyai dokter kandungan yang standby 24 jam di rumah sakit. Jadi tidak mungkin kalau tidak indikasi medis itu kami tidak segera melakukan operasi kalau memang kebutuhan penyakit pasien itu harus segera dioperasi," tandasnya.

Sapto menambahkan, terkait kelengkapan informasi berkenaan dengan kondisi pasien dan kandungannya, pihaknya sudah menyampaikan kepada pasien dan suaminya. Namun persoalan keluhan itu muncul dari salah satu pihak keluarga dan kerabat pasien yang dimungkinkan karena kurang lengkap dalam menerima informasi, sehingga menjadikan perbedaan persepsi. Sementara itu, dari pihak pasien maupun suaminya tidak ada masalah dengan pelayanan yang ada.

"Informasinya tidak ditangkap lengkap kalau menurut saya. Saat diberikan informasi dan keterangan bahwa bayi dalam kandungan itu sudah meninggal dunia pasien dan suaminya sudah shock. Orang yang sudah merasa kehilangan serta dalam keadaan shock itu kan mungkin sulit untuk menerima dan memberikan informasi secara lengkap," pungkasnya.