Pentas Monolog 7 Rupa Mejikuhibiniu, Sampaikan Toleransi Secara Paradoks
Peristiwa

Pentas Monolog 7 Rupa Mejikuhibiniu, Sampaikan Toleransi Secara Paradoks

Kebumen,(kebumen.sorot.co)--Sedikitnya ada 250 tiket pentas monolog 7 rupa Mejikuhibiniu ludes diserbu oleh para peminat dan penggiat teater yang ada di Kebumen. Tak hanya dari Kebumen, para peminat dan penggiat teater dari luar Kebumen, seperti Purworejo, Cilacap dan kota lain juga turut datang menyaksikan pentas yang digelar di Auditorium IAINU Kebumen, Selasa (06/11) malam.

Pentas yang dipersembahkan oleh Trocoh Teater itu menampilkan 7 karakter dalam satu tubuh seorang aktor sekaligus sebagaimana yang tersirat dalam tema ataupun judul monolog tersebut, yakni tujuh karakter warna pelangi, Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Biru, Nila, Ungu (Mejikuhibiniu). Didukung dengan tata cahaya dan musik, sang aktor tampil memukau para penonton.

Naskah karya Hamdy Salad, seorang penyair yang juga merupakan dosen Creative Writing di Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta tersebut digarap oleh sejumlah pegiat teater pemenang Indonesian Short Movie Festival, yakni Suryadin Abdullah sebagai sutradara, Jauhara N Azzadine sebagi aktor karikatural, Ong Ofas sebagai penata cahaya, HR Nawawi sebagai penata artistik panggung, Giarian Harik sebagai penata musik dan Inuung sebagai produser.

Pentas tersebut menggambarkan tujuh warna karakter dan watak seseorang dengan latar belakang masing-masing pada sebuah realitas kehidupan. Konflik demi konflik pun dimunculkan melalui masing-masing karakter. Selain konflik pemikiran dan sudut pandang, dalam pentas itu juga menyajikan ruang kontemplasi untuk para penonton.

"Sebenarnya naskah Mejikuhibiniu ini menceritakan realita yang ada sekarang. Karena itu naskah 2016 jadi aku kira sangat relevan untuk saat ini, sekarang, nanti dan sampai kapanpun itu pasti akan relevan. Karena ini menceritakan bermacam-macam realita yang ada dalam kehidupan kita sekarang," terang sang aktor, Jauhara N Azzadine saat ditemui sorot.co usai pementasan.

Jauhara menjelaskan, pada lima rupa yang pertama, menceritakan bermacam-macam realita, ada orang yang sukanya berkata-kata, ada orang yang cuma berwacana, ada eksekutor, ada kekayaan, kekuasaan, ada jiwa dan raga lalu disangkal semua oleh rupa kelima. 

"Untuk menanggulangi itu semua, di akhir naskah tersebut ada sisi reflektif di akhir. Jadi ada semacam segmen refleksi lah. Pesan yang ingin disampaikan, kalau dari naskah, yang diharapkan oleh naskah, jelas, pesan yang ingin disampaikan yakni kita harus sadar ada bermacam macam realita yang hadir sekarang dan itu menimbulkan sesuatu yang buruk. Karakter satu ditentang karakter dua, karakter tiga begitu seterusnya," bebernya.

Jauhara menandaskan, pada naskah tersebut intinya mengharapkan adanya toleransi. Kendati demikian, dalam naskah itu tidak ada satupun kata yang mencerminkan toleransi. Namun kata toleransi disampaikan dengan cara yang berbeda.

"Kata kuncinya toleransi. Dalam naskah tersebut menyampaikan toleransi dengan cara yang paradoks," tandasnya.

Jauhara menambahkan, pentas tersebut digelar di tujuh kota, yakni Yogjakarta, Kebumen, Purwokerto, Kudus, Semarang, Magelang dan terakhir di Solo.