Tidak Berizin, Dua Rumah Produksi Jamu Tradisional Digerebek Petugas
Hukum & Kriminal

Tidak Berizin, Dua Rumah Produksi Jamu Tradisional Digerebek Petugas

Kebumen,(kebumen.sorot.co)--Dua rumah produksi jamu tradisional yang tidak berizin digrebek Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) bersama Satpol PP Kebumen, Kamis (1/11/2018). Di samping tidak memiliki izin produksi, pembuatan obat tradisional tersebut juga diduga menggunakan bahan kimia berbahaya.

Penggrebekan yang disertai dengan penyitaan itu dilakukan pada rumah produksi milik berinisial PW (perempuan) dan SH warga Desa Purwoharjo Kecamatan Puring. Keduanya memproduksi jamu tradisional dengan merk Dua Raja Singa yang dijual dalam bentuk kemasan botol.

Adapun beberapa barang yang disita petugas di rumah PW antara lain 1.416 botol jamu dalam kemasan ukuran 150 mililiter baik yang sudah berlabel maupun belum. Tutup botol satu karung, etiket 1 plastik, segel 1 plastik, pewarna 6 botol, kristal warna 1 plastik, sodium benzoat satu plastik.

Selanjutnya tandon 1 buah, dandang 2 buah, pengaduk kayu 2, mesin pengaduk 1 set, alat seal 1 buah, catatan produksi dua buku dan 2 bendel nota penjualan jamu. Sementara barang-barang yang disita dari rumah SH yaitu kemasan karton jamu 7 ikat dengan tiap ikatnya 25 dan 5 karton, tutup botol satu karung dan seal 3 plastik.

Plt Kasatpol PP Kebumen Drajat Triwibowo melalui Kabid Gakda Sugito Edi Prayitno membenarkan penggrebekan rumah produksi jamu itu. Disampaikannya, pengakuan PW, awal pembuatan jamu berawal dari rekan suaminya dari Banyuwangi yang mengajak memproduksi jamu. Adapun setiap botolnya jamu tersebut dijual dengan harga Rp 2.500 dari rumah produksi.

"Cairan maupun serbuk-serbuk tanpa label bahan untuk membuat jamu akan dicek pada laboratorium BPOM. Untuk pemiliknya tidak ditahan tetapi akan dipanggil ke BPOM Semarang Senin pekan depan," ungkapnya didampingi PPNS BPOM Agung Suprianto.

Dijelaskannya, sembari menunggu hasil pemeriksaan laboratorium barang-barang yang disita diamankan petugas dan tidak boleh memproduksi jamu kembali. Sedangkan yang bersangkutan diduga melanggar Pasal 196 dan 197 Undang-undang nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan dengan ancaman pidana maksimal 15 tahun penjara dan denda paling banyak Rp 1,5 miliar.