Tawarkan Konsep Eduwisata, Kampung Gerabah Gebangsari Kian Banyak Dikunjungi
Wisata

Tawarkan Konsep Eduwisata, Kampung Gerabah Gebangsari Kian Banyak Dikunjungi

Klirong,(kebumen.sorot.co)--Seiring dengan pesatnya perkembangan zaman, keberadaan produk gerabah tradisional atau tembikar kini kian langka. Gerabah sebagai salah satu produk peninggalan budaya itu, kini juga semakin jarang digunakan oleh masyarakat karena tergantikan dengan produk-produk pabrikan. Kini peralatan dapur didominasi produk berbahan berbahan plastik, aluminium hingga stainlees.

Di era milenial saat ini, bahkan bayak generasi muda sudah tidak mengenal perkakas dapur dan alat-alat rumah tangga berbahan dasar tanah liat tersebut. Pergeseran saman tersebut secara langsung berimbas telah berdampak pada semakin surutnya para perajin gerabah. Seperti di Desa Gebangsari, Kecamatan Klirong. Akibat lesunya pasar, banyak perajin gerabah di desa ini beralih profesi demi bertahan dan memajukkan taraf hidupnya.

Selain beralih ke dunia pertanian, mayoritas warga yang dulu menggantungkan nafkahnya dan memproduksi gerabah, sejak 2017 lalu tercatat hanya sekitar 11 perajin yang masik bertahan. Kini, jumlah warga yang eksis berproduksi terus berkurang karena permintaan pasar juga semakin menurun.

Di tengah sepinya permintaan pasar, para perajin gerabah di desa ini seolah mendapatkan tenaga baru dengan perkembangan di sektor wisata. Dengan difasilitasi oleh pemerintah, tahun 2017 lalu, para perajin mulai melakukan inovasi baru, yakni wisata edukasi atau eduwisata. Sejumlah perajin yang lama berhenti, kini mulai kembali memproduksi gerabah-gerabah. Perkembangan terakhir, sedikitnya 40 perajin kini sudah meneknuni kembali profesi lama mereka.

Konsep eduwisata yang ditawarkan di kampung gerabah itu pun kian diminati oleh para wisatawan, baik dari dalam maupun luar kota Kebumen. Khususnya dari kalangan pelajar, mulai dari tingkat PAUD, TK, SD hingga perguruan tinggi. Teknik pembuatan gerabah di kampung tersebut sengaja dijaga orisinalitas tradisionalnya. Karena teknik pembuatan gerabah yang diwariskan secara turun-temurun tersebut menjadi daya tarik bagi para wisatawan. Desa ini telah berubah layaknya laboratorium gerabah.

Eduwisata kampung gerabah ini mulai kita rintis sejak satu tahun yang lalu.. Meski belum launching, tetapi berkat dukungan yang intens dari pendamping desa dan pihak-pihak terkait, jumlah para para pengunjung belakangan ini terus meningkat. Sejak dirintis, tercatat ada kurang lebih 2.000 wisatawan yang sudang berkunjung,” terang Kepala Desa Gebangsari, Trio Suprapto, Rabu (31/10).

Ia menambahkan, dalam eduwisata ini wisatawan akan diajak untuk melihat hasil produksi gerabah di galeri gerabah yang telah disiapkan. Wisatawan juga bisa belajar membuat gerabah dan terlibat langsung dalam proses pembuatan gerabah di rumah produksi. Mereka dapat mewarnai gerabah hasil buatannya sendiri sesuai dengan kreativitasnya. Selanjutnya, gerabah hasil buatannya dapat dibawa pulang sebagai cenderamata. 

Semoga kedepan, kampung gerabah dapat menjadi eduwisata unggulan di Kebumen yang khas dan berkembang jauh lebih baik lagi, sehingga mampu menggerakkan roda ekonomi warga,” harapnya.

Sementara itu, Supiah, salah satu perajin gerabah di tempat ini menuturkan, dengan adanya eduwisata kampung gerabah itu, ia kini lebih aktif lagi dalam memproduksi gerabah. Selain itu, dirinya juga mengaku tidak kesulitan lagi untuk menjual buah karyanya tersebut.

Dulu sulit sekali menjual gerabah. Sekarang sudah mendingan, sejak adanya eduwisata kampung gerabah. Jadi banyak yang beli. Harganya juga stabil,” ujarnya.