Musim Panen Udang, Kali Buntu Dihiasi Lampion di Malam Hari
Ekonomi

Musim Panen Udang, Kali Buntu Dihiasi Lampion di Malam Hari

Petanahan,(kebumen.sorot.co)--Keberadaan lampu teplok tradisional yang mengambang di sepanjang Kali Buntu pada waktu sore hingga dini hari memberikan pesona alam tersendiri. Lampu lampu itu menyala mulai dari wilayah Desa Jogosimo, Kecamatan Klirong hingga Desa Tegalretno, Kecamatan Petanahan.

Siapa sangka, lampu tradisional yang berjajar-jajar indah bak lampion air itu adalah perangkap udang yang dipasang oleh para pencari udang. Mereka yang tidak lain adalah warga yang ada disekitar Kali Buntu menyebut ranjau itu dengan nama wuwu udang.

Selain memasang jarring di sekitar lampu, mereka juga memasang ranjau tradisional jenis lain bernama anco. Anco sendiri merupakan alat tangkap udang yang khusus dirakit sendiri oleh para pencari udang. Anco dirakit dengan menggunakan bahan bambu dan jaring kelambu yang lembut. Di atas alat bernama anco, diletakkan sebuah obor atau oncor sebagai pemikat udang-udang yang ada dipinggiran Kalibuntu.

Keberadaan wuwu dan anco itu sontak menebarkan pesona yang khas dan mengadirkan sejuknya naturalisme kehidupan tradisional warga di sekitar Kalibuntu. Saidin (53), salah satu pencari udang asal Desa Tegalretno, Kecamatan Petanahan menuturkan, musim udang dikawasan Kali Buntu tersebut terjadi antara bulan Agustus hingga akhir bulan Oktober mendatang.

"Musim udang di Kali Buntu biasanya ditandai dengan adanya gelombang laut yang besar. Musim udang bergantung pada muara Kalibuntu, karena muara Kali Buntu selalu berpindah-pindah dan kondisi muara bergantung pada gelombang laut. Nah makanya tidak mesti juga sebenarnya," jelas Saidin, Sabtu (06/10).

Saidin menuturkan, meski di kawasan setempat banyak terdapat tambak udang, namun banyak para pembeli yang meminati udang Kali Buntu, karena rasanya yang khas. Selain lebih gurih, udang Kali Buntu juga dikenal ada rasa manis dan legitnya. 

"Biasanya, udang Kalibuntu dibuat rempeyek oleh para pembeli. Ada penggemar khususnya. Kalau udang tambak biasanya kurang bagus dan enak kalau dibuat rempeyek," ucapnya.

Biasanya, para pencari udang berangkat berburu pada saat matahari mulai terbenam sekitar pukul 16.00 WIB hingga pukul 18.00 WIB. Para pencari udang kemudian pulang ke rumah pada sekira pukul 21.00 WIB. Pencari udang akan berangkat mencari udang kembali pada pukul 02.00 WIB dini hari dan akan pulang pada sekira pukul 05.00 WIB pagi.

"Dalam waktu sehari biasanya kita mendapatkan antara 8-10 kilogram. Harga per kilogram berkisar antara Rp. 35-40 ribu. Kalau sudah tidak musim udang kita ya kembali lagi menekuni pertanian," pungkasnya.