Mengenal Seni Batik Pegon Hasil Kreasi Rumah Inklusif Kebumen
Budaya

Mengenal Seni Batik Pegon Hasil Kreasi Rumah Inklusif Kebumen

Kebumen,(kebumen.sorot.co)--Seringkali, batik sebagai salah satu warisan budaya Nusantara kurang diperkenalkan secara utuh dan menyeluruh kepada masyarakat. Banyak yang menyoroti batik hanya dari sudut pandang seni, keragaman motif, teknik, ekonomi, industri dan gengsinya saja. Padahal, batik lebih dari apa yang terlihat.

Seperti halnya batik Pegon yang baru-baru ini diinisiasi dan dilaunching oleh Rumah Inklusif Kebumen. Siapa sangka, hal yang tak tampak dibalik goresan demi goresan warna serta motif yang tertuang pada sehelai kain itu, ternyata lebih kaya akan arti dan makna tersendiri bila dibandingkan dengan hanya sehelai kain batik saja.

Pegon sebagai nama batik itu diambil dari khasanah budaya Nusantara. Pegon merupakan huruf Arab yang dimodifikasi untuk menuliskan bahasa Jawa. Huruf pegon sering digunakan di kalangan santri pondok pesantren untuk memaknai atau menerjemahkan kitab kuning atau kitab gundulan berbahasa Arab ke dalam bahasa Jawa. Di kalangan pesantren, tulisan pegon juga biasa disebut dengan istilah gondrongan atau tulisan makna gandul.

Tulisan pegon yang digunakan untuk membatik itu pun berfariasi dan dibagi kedalam sejumlah edisi. Tulisan pegon pada masing-masing edisi diambilkan dari nama-nama, istilah maupun simbol-simbol tradisi budaya lokal. Di antaranya, yakni Guyub Rukun, Ngregani, Janur, Joglo, Ngopi, Lepet, Kluban, Garu, Mapati, Islam Nusantara, Tahlilan, Kupat, Santri, Mituhu dan sejumlah edisi lainnya.

Pengelola Rumah Inklusif Kebumen, Muinatul Khoiriyah yang lebih akrab disapa dengan nama Iin mengisahkan, aktivitas membatik di Rumah Inklusif sendiri, bermula sekitar satu tahun yang lalu, saat Rumah Inklusif kedatangan tamu dari Jakarta. Tamu tersebut tidak lain adalah teman-temannya dari Komunitas Agen Kebaikan dan Batik Palbatu. Teman-temannya itulah yang mengajarkan ilmu membatik kepada keluarga Rumah Inklusif.

Berawal dari situlah, kita mulai belajar membatik. Hingga saat ini, kita telah melahirkan beberapa karya batik, berupa sarung, jarit dan baju. Dari sekian banyak karya, ada satu karya batik yang kemudian menjadi ciri khas batik Rumah Inklusif, yakni batik pegon. Motif inilah yang kemudian menjadi nama batik khas yang produksinya kini sedang kita seriusi dan kita kembangkan,” ujarnya, ditemui di komplek Joglo Pesantren Rumah Inklusif, Desa Kembaran, Kecamatan Kebumen, Kamis (27/9).

Iin menuturkan, proses membatik tersebut sangat bermanfaat bagi keluarga difabel Rumah Inklusif. Proses membatik menjadi media yang baik untuk terapi kelumpuhan otak bagi difabel. Batik pegon menjadi wadah bagi difabel untuk menyalurkan imajinasi, kreasi dan inovasinya. 

Proses membatik ini menjadi ruang komunikasi sekaligus ruang batin bagi keluarga difabel. Dengan membatik, kita dapat berkomunikasi dengan penuh kasih sayang dan canda tawa. Setiap helai batik pegon telah mengajarkan dan memahamkan kepada kita tentang banyak hal,” ujar Iin di tengah kesibukannya mewarnai batik pegon.

Iin menerangkan, teknik yang digunakan untuk membatik tak jauh berbeda dengan teknik membatik pada umumnya, yakni dengan teknik tulis, cap dan kombinasi antara cap dan tulis. Sedangkan bahan kain yang digunakan adalah kain katun primis. Kain tersebut cukup baik kualitasnya bila dibandingkan dengan jenis kain yang lain. Primis memiliki serat benang yang rapat dengan kainnya yang juga tebal dan halus.

Kita sedang merencanakan pameran batik pegon pada bulan depan. Kita menargetkan ada kurang lebih 300 lembar batik dengan berbagaimacam edisi dalam event tersebut. Semoga saja dapat terlaksana dengan baik,” harapnya.