Ini Pendapat Ulama Soal Hukum Bayar Zakat Fitrah dengan Uang
Sosial

Ini Pendapat Ulama Soal Hukum Bayar Zakat Fitrah dengan Uang

Kebumen,(kebumen.sorot.co)--Zakat fitrah adalah kewajiban setiap muslim yang harus ditunaikan menjelang Idul Fitri. Selama ini, zakat fitrah mengharuskan pembayaran dengan bahan pangan pokok yang dimaksudkan meringankan beban mustahik (penerima zakat) untuk memenuhi kebutuhan saat hari raya.

Kendati demikian, pembayaran zakat fitrah dengan bahan pokok seiring berjalannya waktu dirasa kurang efektif. Pembayaran menggunakan uang kemudian menjadi banyak dilakukan sebagian muslim. Akan tetapi, seperti apa hukum membayar zakat fitrah dengan uang itu.

Ketua Yayasan Masjid Agung Kebumen K Ahmad Nasrullah mengatakan, ada perbedaan pendapat ulama tentang pembayaran zakat dengan uang. Jika Madzhab Syafii tidak membolehkannya, berbeda dengan madzhab Hanafi yang memperbolehkan membayar zakat fitrah dengan uang.

"Namun yang menjadi catatan, satu sha antara madzhab Hanafi dan Syafii berbeda," ungkap Gus Nas sapaan akrabnya, Senin (11/6).

Sha merupakan takaran bukan timbangan yang digunakan sejak masa Rasulullah SAW. Karena takaran, umumnya sulit dikonversi dengan berat karena nilainya akan berbeda seperti halnya beras. Untuk satu sha beras, ia mengimbau agar membayar dengan 3 kilogram. Sedangkan satu sha yang dibayarkan dengan uang (Hanafi), ia mentaksir sekitar 4 kilogram. 

"Kalau mau membayar zakat dengan uang mestinya mengikuti madzhab yang membolehkannya," tegasnya.

Menurutnya, zakat sebaiknya diberikan langsung terhadap mustahik. Yang berhak menerima zakat yaitu fakir, miskin, Ibnu sabil/kehabisan ongkos di perjalanan, gharim/memiliki banyak hutang, Sabilillah, Riqob, mualaf, dan Amil. Kategori miskin, ia berpandangan perlu dibuat standarisasi pemerintah agar pemberian zakat dapat tepat sasaran.

"Pemerintah harus mengkategorikan miskin bukan dengan KK tetapi kebutuhan setiap anggota keluarga. Karena, keluarga dengan anak 4 tentu memiliki kebutuhan lebih banyak dibandingkan dengan yang memiliki anak 2 meskipun dengan penghasilan sama. Maka, kebutuhan setiap anggota keluarga harus dihitung dengan benar, dan ini tugas dari pemimpin (Bupati)," tegasnya.

Ia mengaku senang dengan tingginya antusias sedekah masyarakat atau bantuan pemerintah sehingga bangunan masjid menjadi bagus. Namun menjadi ironi jika para kyai (alim) yang notabene mengajarkan agama acap kali tidak diperhatikan. Mereka seolah-olah dibiarkan berjuang sendiri di jalan Allah sekaligus menghidupi keluarga tetapi tidak difikirkan masyarakat.

Hal itu menyebabkan, tidak sedikit anak kyai yang lebih memilih bekerja ketimbang meneruskan tugas orang tuanya. Dengan demikian, regenerasi kyai atau alim terhambat yang dapat mengancam agama Islam itu sendiri. Atas perjuangannya, menurutnya kyai tidak mendapatkan gaji layak memperoleh zakat karena masuk dalam kelompok Sabilillah.

"Saya mengimbau agar masyarakat yang mau bersedekah tidak hanya untuk masjid tetapi juga kyai khususnya yang di desa. Dengan demikian keberlangsungan agama Islam sendiri akan baik karena agama (Islam) akan rusak jika tanpa ilmu," tandasnya.