Susahnya Jual Kelapa Muda Saat Obyek Wisata Sepi
Ekonomi

Susahnya Jual Kelapa Muda Saat Obyek Wisata Sepi

Klirong,(kebumen.sorot.co)--Sepinya pengunjung di sejumlah obyek wisata di Kabupaten Kebumen dan sekitarnya berdampak langsung pada harga kelapa muda di sejumlah desa penghasil kelapa muda. Seperti halnya di beberapa desa di Kecamatan Klirong, Petanahan, dan Puring, harga kelapa muda turun hingga 50 persen.

Menurut Prayitno, salah satu pedagang kelapa asal Desa Jogosimo, Kecamatan Klirong, anjlognya harga kelapa muda salah satunya disebabkan oleh surutnya pengunjung wisata di sejumlah daerah, baik di Kebumen sendiri maupun di luar Kebumen.

Harga standar biasanya berkisar antara Rp 2.500 - 3.000 per biji. Namun kini harganya turun hingga Rp 1.500 per biji. Itu saja harus menunggu pesanan terlebih dulu,” keluh Prayitno kepada sorot.co, Minggu (11/03/2018).

Prayino mengaku, kini dirinya tidak berani membeli kelapa muda jika tidak ada pesanan dari pedagang besar baik dari dalam maupun luar kota Kebumen karena resiko yang harus ditanggung terlalu besar. Selain mengeluarkan modal yang cukup banyak, resikonya dagangan kelapa muda busuk juga tinggi. 

Kalau lama nggak diangkut nanti barangnya busuk. Kalau sudah busuk siapa yang mau beli. Ditambah lagi saat sering turun hujan,” ucapnya.

Prayitno mengungkapkan, harga kelapa mulai melonjak biasanya pada saat musim liburan, Ramadhan dan saat lebaran. Saat melonjak harga kelapa muda berkisar antara Rp 3.500 – 4.000 per biji, bahkan terkadang bisa lebih tinggi dari harga tersebut.

Saat-saat seperti sekarang ini memang sulit sekali menjual kelapa muda. Biasanya kalau kebutuhan di Kebumen sudah tercukupi, saya menjualnya ke pedagang di Yogyakarta dan Cilacap. Tapi pedagang dari Yogyakarta dan Cilacap sendiri sekarang juga sulit menjual barang dagangannya,” ujar Prayitno.